Pertumbuhan penduduk mempunyai peranan yang
sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi, hal ini telah dikemukakan oleh para
pakar ekonomi kependudukan dan penentu kebijakan telah melakukan kajian tentang
hubungan antara pertumbuhan penduduk dengan pembangunan ekonomi.
Pendapat ini bisa dibuktikan dari dampak
penurunan fertilitas dan perubahan demografi di Negara-negara yang telah maju,
di mana Negara pertumbuhan penduduknya rendah, pertumbuhan ekonomi sangat
tinggi, angka kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan menurun,
pemakaian sumber daya alam berlangsung secara berkelanjutan sehingga implikasi
terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat cukup bermakna.
Sebagai contohnya, Kelley dan Schmidt
mengemukakan bahwa penurunan fertilitas dan mortalitas telah masing-masing
telah memberikan konstribusi sebesar 22 % dalam meningkatkan pertumbuhan
output. Atau kurang lebih sama dengan 21 % dari 1,5 % rata-rata pertumbuhan
perkapita output.
Penurunan fertilitas akan menurunkan proporsi
penduduk yang tidak produktif dibandingkan penduduk produktif atau angka beban
tanggungan keluarga dan pemerintah semakin kecil sebagai dampak berkurangnya
jumlah anak dalam keluarga melalui pengaturan kelahiran yang dilakukan oleh
keluarga.
Perubahan struktur umur penduduk dan mengubah
rasio ketergantungan anak-anak terhadap penduduk usia kerja, apalagi diikuti
perluasan kesempatan kerja, maka tingkat kesejahteraan masyaraktat menjadi
tinggi, dan sebaliknya jika pengendalian kelahiran tidak berhasil, jumlah
anak-anak dalam keluarga besar/banya atau penduduk usia tidak produktif
membludak, maka pertumbuhan ekonomi akan menjadi lamban, angka kemiskinan
semakin meningkat.
Lebih jauh Willianson mengatakan bahwa factor
yang paling menentukan dalam melihat dampak perubahan demografi terhadap
pertumbuhan ekonomi adalah perubahan struktur penduduk (Williamson 2001).
Karena apabila struktur penduduk usia muda (tidak
produktif) semakin besar jumlahnya, maka pertumbuhan pendapatan per kapita
terserap oleh besarnya penduduk muda yang menjadi tanggungan penduduk usia
kerja yang proporsinya relative kecil terhadap jumlah penduduk.
Padahal tenaga kerja ini diharapkan memupuk
tabungan. Tetapi dengan lambatnya upaya pengendalian fertilitas atau kelahiran
jumlah penduduk tidak produktif akan meningkat tajam yang tentu berdampak
negative terhadap tabungan karena pendapatan hanya habis untuk konsumtif.
Dalam kesempatan perlu dijelaskan mengapa
pengendalian fertilitas ini penting dan strategis, karena hal ini sangat
terkait dengan upaya mempengaruhi struktur usia penduduk, terutama mengarah
pada ke kelompok umur usia produktif yang akan menguntungkan pertumbuhan
ekonomi.
Para ekonom telah lama berpendapat bahwa tabungan
(savings) menyumbang peningkatan pendapatan per kapita (level per capita
income) karena investasi yang lebih besar akan memicu output per kapita yang
lebih tinggi. Ini dibuktikan oleh Lee, Mason dan Miller (2001) dalam
penelitiannya yang menggunakan data survey rumah tangga tentang pendapatan
(earning), membuktikan peningkatan tabungan dan peningkatan akumulasi kekayaan
berdasarkan Life Cycle model of saving behavior, life cycle model ini dipicu
oleh perubahan ratio ketergantungan penduduk muda (15 tahun kebawah) dan
peningkatan pesat dari penduduk usia kerja yang diakibatkan oleh penurunan
fertilitas yang pesat.
Model ini memberikan stimulasi bagi Negara-negara
yang telah berhasil menata struktur penduduk melalui pengaturan kelahiran
berkesinambungan. Simulasi ini menghasilkan peningkatan yang cukup bermakna
dalam tingkat tabungan dan dalam akumulasi kekayaan (wealth income ratio) yang
lebih tinggi.
Kapan pola pikir ini terjadi di Negara kita, di
mana penentu kebijakan peka dengan upaya pengendalian kelahiran yang cukup
memprihatinkan ini, saya kira karena ketidak empatian saja membuat orang tidak
peduli terhadap upaya pengaturan jumlah anak dalam keluarga ini. Dalam hal ini
sebagai penulis karena rasa kecintaan saya terhadap ibu-ibu supaya jangan
terlalu banyak anaknya. Maka saya sampaikan tulisan ini semoga dijadikan bahan
renungan bagi kita semua termasuk penentu kebijakan Untuk lebih menggugah
kepada kita semua bahwa perubahan struktur umur penduduk akan memberikan
konstribusi penting bagi pelonjakan besar dalam tabungan dan investasi.
Kenyataan sebaliknya bagi Negara berkembang karena ketidak berhasilan dalam
upaya pengendalian kelahiran, maka menjadi salah satu sebab kemiskinan
terus-menerus baik itu terjadi pada tingkat rumah tangga maupun pada
tingkat makro Negara. Kepedulian terhadap pengendalian penduduk memang
mempunyai peranan yang penting terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan penduduk usia kerja yang lebih pesat
dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk muda memberikan peluang untuk kita
memperoleh bonus demografi yang telah terbukti di Negara yang sudah maju. Ini
akan dapat diwujudkan jika ada respons kebijakan pemerintah yang positif.
Untuk membuka wawasan kita para pakar memberikan
pengertian bonus demorafi adalah keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh
menurunnya ratio ketergantungan ( dependency ratio ) sebagai hasil proses
penurunan fertilitas jangka panjang. Penurunan proporsi penduduk muda mengurangi
besarnya beban keluarga dan pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat,
sehingga sumber daya lebih bisa dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan
ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Bonus demografi adalah
merupakan peluang kesempatan ( the window of opportunity ) berupa tersedianya
kondisi atau ukuran yang ideal pada perbandingan antara jumlah penduduk yang
produktif dan dengan non produktif. Jadi terbukanya the window of opportunity
yang menyediakan kondisi ideal untuk meningkatkan produktivitas, yang tentunya
perlu kita manfaatkan sebaik-baiknya bagi pemerintah dimanapun tingkatannya,
apabila ada niat untuk meningkatkan kesejahteraan penduduknya.
Dari beberapa informasi yang telah disampaikan,
maka dapat diberikan suatu harapan baik bagi mereka yang peduli kepada upaya
pengendalian kelahiran, dan penentu kebijakan :
1. Pengendalian kelahiran yang dilakukan
perlu mendapatkan dukungan komitmen dari pemerintah daerah dimanapun, karena
kalau kita terlambat dalam penanganan masalah kependudukan ini kita akan
menemukan dampak negative yang lebih besar yang berkaitan dengan pertumbuhan
penduduk yang terlalu tinggi, jangan – jangan sumber alam yang melimpah akan
hanya tinggal kenangan,
2. The window of opportunity yang
akan memberikan peluang kesempatan untuk mencapai kondisi ideal untuk
meningkatkan produktivitas ini harus direbut oleh setiap daerah dengan
sebaik-baiknya bagi pemerintah, apabila ingin meningkatkan kesejahteraan
penduduk.
3. Penurunan fertilitas dan besarnya
keluarga ideal akan memotivasi perempuan untuk masuk pasar kerja. Dengan masa
melahirkan dan merawat anak menjadi lebih pendek , maka perempuan mempunya
waktu yang lebih banyak untuk melakukan hal-hal yang bukan melahirkan dan
merawat anak. Dan apabila perempuan ini dilahirkan dari generasi yang sudah
menganut keluarga kecil, maka mereka cenderung memiliki keluarga kecil juga.
Jadi perempuan akan semakin memilih untuk mempunyai anak lebih sedikit dan
masuk ke pasar kerja, serta dapat menyumbang pada peningkatan produksi per
kapita.
4. Ada accounting effects dan
behavioral effects sebagai dampak pengaturan kelahiran atau terhindarnya
atau tercegahnya kelahiran memberikan perubahan pola pikir masyarakat yang
berkelanjutan kegenerasi mendatang.
5. Dengan gaya hidup yang sudah modern saat
ini perempuan juga akan semakin terbuka untuk menerima pembaharuan yaitu
berpikir lebih memperhatikan kualitas dari pada kuantitas anak. Sehingga ada
kecenderungan mereka tidak segan-segan untuk menginvestasikan pendapatannya
untuk memperoleh pendidikan & kesehatan yang lebih baik bagi anaknya.
6. Memang kita harus bersabar untuk
melihat hasil program kependudukan seperti yang telah kita lakukan atau punyai
saat ini “ It’s like watching the grass grow’ seperti memandangi rumput yang
tumbuh di lapangan luas, tidak segera kelihatan hasilnya, tetapi hasilnya dapat
dilihat jangka panjang , sebagi penentu kebijakan dan pelaku pembangunan harus
arif melihatnya dan harus mau memandang lebih jauh kedepan, jangan yang sesaat
atau jangka pendek saja. Generasi yang dipersiapkanmelalui perencanaan
kehidupan berkeluarga adalah generasi mendatang yang penuh arti untuk kehidupan
yang lebih maju, lebih bermartabat, berdaya saing - bukan generasi loyo tanpa
mimpi dan harapan. (Priyo Basuki)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar